Jangan Sampai Buah Tangan Memutuskan Tali Silaturahmi

Jangan Sampai Buah Tangan Memutuskan Tali Silaturahmi

Ilustrasi 1 :
Suatu waktu seorang teman saya bercerita tentang teman kuliah dia yang baik sekali.
Dia pernah DIRUMAHKAN dari sebuah perusahaan karena alasan usaha sedang LESU dan dalam masa dirumahkan tersebut, dia mendapat undangan pernikahan dari temannya tersebut.

Waktu itu dengan sangat sopan teman saya itu mengirim SMS "Maaf kawan, saya tidak bisa hadir, next time saya main kerumah"
Lalu teman dia itu menelepon, dia berkata :  "abang... saya tau kondisi abang saat ini, kita kan kawan baik, datang lah, tidak usah abang pikirkan amplop atau kado, abang datang saja itu sudah lebih dari cukup buat saya, nanti saya suruh si adek untuk menjemput abang ya, gak usah pikirin masalah itu"

Ilustrasi 2 :
Seorang sahabat saya bercerita tentang bagaimana merasa berdosanya dia tidak pernah mengunjungi rumah Bapa Tua (Abang dari Ayah) padahal dia berada disatu kota yang sama.

Saat saya sarankan untuk mengunjungi, dengan sangat sedih dia bercerita kalau Inang Tuanya sangat sinis menerima tamu yang tidak bawa BUAH TANGAN.
Teman saya merasa sangat dekat dengan bapa tuanya karena bapa tuanya itu baik sekali, hanya saja inang tuanya perhitungan dalam segala hal.
Saya bilang :

"Kau beli lah BIKA AMBON"

Teman saya menjawab :

"Kalau hanya bika ambon mana bisa dia tersenyum, harus makanan yang berat dan enak baru senyumnya mengambang, makanya orang tuaku juga tidak mau berkunjung kerumah mereka sebab kalau tidak bawa SIPANGANON (makanan) jadi lain sambutannya, SEPERTI ORANG ASING KAMI dirumahnya"

Dari kedua Ilustrasi diatas saya ingin memunculkan satu topik mengenai SILATURAHMI

Dalam kehidupan bersaudara dan bersahabat adakalanya silaturahmi TERPUTUS hanya karena BUAH TANGAN.

Satu kasus ada pihak seperti Inang Tua pada ilustrasi diatas yang memang sangat "MENSTANDARKAN" sebuah kunjungan dengan buah tangan.
Orang seperti ini akan menjadikan "seseorang yang datang tanpa buah tangan" sebagai sebuah pelanggaran adat.

Kasus lain ada pihak seperti Ilustrasi 1 diatas YANG SELALU MERASA MINDER dengan diri sendiri akibat tidak punya sesuatu hal yang bisa dibawa.

Pertanyaan untuk kita bersama HARUSKAH TALI SILATURAHMI ANTAR SAUDARA HARUS TERPUTUS HANYA GARA GARA BUAH TANGAN ?

Sering kita dengar kisah orang orang miskin yang menahan rindu tidak saling mengunjungi selama berpuluh tahun hanya karena si miskin tidak bisa membawa SIPANGANON (makanan) kerumah sudaranya,

Seharusnya kita lebih mengutamakan tali silaturahmi dari pada memprioritaskan makanan "tanda kutip"

Bukankah yang paling utama dalam hidup kita adalah CINTA KASIH ?

Jika anda memiliki rasa CINTA KASIH maka terimalah kunjungan dari siapapun kerumah anda tanpa melihat tangannya berisi atau tidak

Begitu pun saat kita mengundang...
AMPLOP memang penting TETAPI TALI SILATURAHMI jauh lebih penting.
Jangan kita mengundang orang hanya untuk mendapat AMPLOP yang banyak tetapi undanglah orang orang untuk mendapatkan DOA yang banyak.

Atau kamu juga diundang...
JUJUR lah pada diri sendiri.
Jika kamu punya uang isilah amplopmu selayaknya.
Jika kamu tidak punya uang, pinjam dulu lah dari teman yang lain, toh juga kita mahluk sosial, saling membantu.
TAPI jika kedua hal itu juga tidak bisa, MAKA DATANG LAH KAMU tanpa amplop dan DOAKAN orang yang mengundang mu.
Datang tanpa amplop JAUH LEBIH baik dari pada membohongi diri sendiri.
Saya jadi teringat saat abang saya menikah, kami menemukan 3 buah amplop kosong.
Beberapa tahun kemudian saat adik saya menikah, kembali kami menemukan 4 buah amplop kosong.
Lahhh IKI KEPIYE toh... ?
Bukannya lebih baik kita bisikkan kepada yang punya hajatan "saya datang formalitas aja ya jeng, amplopnya nanti menyusul"

BERAPA kali TALI SILATURAHMI kita terputus hanya karena BUAH TANGAN ?

Saatnya kita rubah MINDSET kita dengan menanamkan CINTA KASIH dihati kita masing masing agar tali silaturahmi tetap terjaga.

Salam untuk sahabat saya semuanya...

-Saya OPPUNG MITTOP-
Advertisement

Baca juga:

Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar